Tampilkan postingan dengan label Khalabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalabi. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Juli 2017

Ini Negeri, Hanya Saja

Ini negeri agraria
potensi kekayaan alam kita ada
sawah ladang dan perairan membentang
hanya saja kini garam sedang hilang



Ini negeri pancasila
beragam keyakinan ternaungi di pelihara
terlindungi dalam semboyan bhineka tunggal ika
hanya saja kini semua seolah di mainkan orang cina



Ini negeri demokrasi
semua saran katanya diserap jadi aspirasi
diperlukan untuk pertimbangan keputusan pejabat tinggi
hanya saja sang pemimpin kini jadi rezim di negeri ini



Mungkin harus dengan jalan revolusi
keadilan sosial bagi seluruh rakyat kan membumi
di Indonesia kini


Senin, 28 September 2015

Dibumi Kepanduan

aku mendengar dzikir jangkrik disubuh buta,
diantara dinginnya suasana perbukitan pelosok kota
semilir angin ini membuatku sejenak terpejam
menghembuslah pesan cinta pemilik semesta
dan nikmat tuhanmu yg manakah yang kan kau dustakan
sesayup terdengar dzikir dari pengeras suara masjid
dan gesekan dedaunan pun ikut menyambut segarnya pagi

Rabu, 22 Oktober 2014

Siang Kan Berganti

Siang kan berganti kawan,
Semilir waktu yang berhembus halus diantara nadi nafas, sejatinya menusuk sadar relung detik yang tertinggal.
Kala sinar menghangat diantara harapan, maka berteguh bulatlah tekad semesta mengagungkan-Nya.
Diantara debu2 nakal ramai itu, merekalah musuh yang nyata bagimu.
Spanjang siang itu.

Dan anak2 rasa yang berlarian mengitari kelabu senja tak berteduh, apa yang ada pada-Nya lebih baik dr smua permainan dan perniagaan.
Maka jagalah jiwa mereka dan sparuh hati mu, karena jilat panas membara abadi sangat menyakitkan.

Rabu, 19 September 2012

Saat Aku Tanya Ketidakadilan Itu Apa


Kulihat nanar pemberitaan semesta disuatu senja, kala yang lain mungkin masih sibuk dengan kemacetan Jakarta. Ada yang menggelitik ruang tanya dalam hatiku, mengapa selalu ketidakadilan?Mengapa selalu yang terpinggirkan, yang selalu menjadi sasaran ego kebinatangan seorang manusia?apalagi mereka seharusnya menjadi teladan ditengah-tengah carut marut zaman yang makin tak terkendali.

Pada ruang itu, dalam relung hatiku sejenak ku kumpulkan serpihan kesempurnaan indera yang diberikan Tuhan untuk ku. Saat kutanya pada hatiku, dengan sedikit kecewa dia mengatakan;

“Rimba waktu yang kian liar pada sedikitnya orang-orang sadar, menginformasikan aku bahwa ada yang hilang dikedalaman bijak manusia masa kini. Karena titik-titik hitam yang tanpa sadar mereka kumpulkan, perlahan menutupi cahaya penglihatan kearifan langkah nafasnya”

Aku tersenyum kala itu, karena memang itulah kenyataan zaman ini. Di kala segala yang instan dan yang dulu dianggap tabu, kini lumrah dan malah menjadi trend yang seakan membudaya dan harus terlestarikan. Lalu sejenak aku menatap sang ego yang sedari tadi hanya tertawa terkekeh-kekeh, dan dia berkata;

Dalam Kebaikan Ada Cinta-Mu


Kala ku tak sadar,
Ada sepi yang KAU hias dirindu kemeriahan waktu dibisu ejaan asa pada bentangan gema cinta-Mu. Dan detik kala itu terasa lambat menggenggam kebeningan ruang fikir, padahal selalu keberadaan-Mu terlihat dalam nuasa-nuasa rasa yang terlintas sendirinya.
Ada duka ditiada bangga warna haru, karena-Mu meniada dalam keberadaan permainan senda gurau belaka. Dan manusia semata yakin terlupa tanpa sesal pun air mata, lalu aku jadi terbiasa mengiya.

Ketika aku mulai berfikir,
Ada keagungan yang berantai turun melalui hirarki keajaiban, ada kearifan yang terpaksa terlaksana sementara jiwa buruk sadar jaga, ada tata tutur terprosedur dengan lidah doa yang percaya, ada kepantasan yang terjewantahkan pada langkah-langkah tulus pengharapan, disitu ada-Mu berada dalam keberadaan ciptaan-Nya.

Kulihat, dalam akal ini bicara tentang-Mu disela-sela celah tebaran abstrak yang terlantun halus terlukis pada paparan kejadian. Jika bukan karena-Mu, aku pasti ditiada kasih-Mu yang jua terluput syukur pada-Mu. Walau tak jarang pun aku tak kuasa menjangkaunya.

Gerak manusia ini pun adalah getaran nafas sayang-Mu yang menggaung teralir bersama senyawa nyawa kehidupan semesta. Walau tak jarang hamba-Mu mengacuhkan-Mu yang menjaganya dalam keramahtamahan penjagaan-Nya.

TERBANGLAH ELANG-ELANG GAGAH


Teruntuk kita, elang-elang gagah

Dulu kita bersama berpayah lelah,
Mendirikan tegar di tegak tiap langkah
Terus berusaha, kemudian pada-Nya kita pasrah
Penuh semangat pentang menyerah

Dulu kita bersama belajar tajam menatap
Di tiap episode aturan-Nya yang mantap
Papa mama kita selalu berucap
Bersyukurlah...., oleh-Nya kita masih diberi amanah

Kini kita, elang-elang gagah

Mengepakkan sayap sejarah ke segala arah
Mengeja Yang Esa ke seluruh jiwa
Walau jauh, cinta kasih itu selalu ada

Senin, 18 Juni 2012

AKHIRNYA HARUS


Akhirnya semua harus berkaca,
Kitalah perwakilan Yang Maha Sempurna namun tak sempurna
Sekedar belajar melengkapi segala yang tlah diberi
Sekedar mencoba menapaki lurus jalan dengan keluhuran budi
Sekedar mengecap rasa jiwa tuk tunjukkan bijaksana

Akhirnya semua harus berkaca,
Kitalah pemilik kehendak yang tak bisa menolak Kehendak-Nya
Hanya tuk belajar meredam emosi tatkala ambisi membara dihati
Hanya tuk rela melangkah lemah tatkala segala daya tertolak kalah
Hanya tuk meyakini semua usaha tak ada yang sia-sia

Akhirnya semua harus berkaca,
Kita jualah perencana yang tak mampu menahan hasil kenyataan-Nya
Setelah sabar menanti pergi lelah berpindah berkah
Setelah sekuat tenaga diam bertahan menjalani hari

Akhirnya semua harus berkaca,
Tiada tuhan selain DIA,
Segala puji hanya bagi-Nya,
Sebaik-baik pemimpin adalah titah-Nya,
Sebaik-baik pelindung adalah yakin pada-Nya

Akhirnya semua harus berkata;
LA ILA HA ILLALLAH, MUHAMMAD AR-ROSULULLAH
HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MAN NATSIR

Senin, 09 April 2012

Dengan Izin-Mu




Di manakah aku harus sembunyi?
Desir angin pembawa debu mikro cinta itu mengayun-anyunkan ku pada sepohon entah yang akarnya amat mendekap eratku. Padahal rerumputan yang terinjak-injak semakin sabar bertasbih pada-Nya. Terik menghangatkannya dalam pandangan-Nya sebagai kuasa-Nya. Hujan menyejukkannya di antara kerontang murka kasih-Nya.
Di manakah aku harus sembunyi?
Tapak-tapak ku dijalan-jalan pilu-Mu mengoyak kesedihanku, meminta-Mu membaringkanku di ketenangan makna-Mu. Walau ragu tak mampu menjamah urat asa di selimut senja indah pada bentangan awan-awan nakal yang mengancam.
Di manakah aku harus sembunyi?
Dipandang-Mu terbaring sunyiku bersama belukar tanya-Nya selama KAU jalankan detik yang mengacaukan kalimat-Mu di dada hamba-hamba-Nya.
Di manakah aku harus sembunyi?
Bukan karena bumi ku sombongkan atas-Nya, namun pada-Mu pelangi itu teramat abstrak teratur. Bukan pula aku mengigaukan-Mu karena mimpi tak mampu menjawab teramat banyak-Nya di nikmat-nikmat-Mu.
Di manakah aku harus sembunyi?
Bila pun kuasa itu terbentur dengan-Mu dan aku menyelinap belajar pada-Nya tentang kenyataan-Nya disukar langkah yakin yang tertusuk duri enggan pada bosan murka-Nya.
Maka izin-Mu kan ku sematkan di amarah-amarah lemah meninggalkan cahaya-cahaya silau yang menjauhkanku dari mereka karenanya.


Sumber: http://www.dakwatuna.com